Rama Widi, Harpist Yang Mendunia

1/29/2016 03:00:00 PM RED Production 0 Comments



Rama Widi, mungkin tak dikenal dalam dunia foodies eksis di Jakarta ya terang saja, namun Rama Widi adalah seorang Harpist Internasional kebanggaan Indonesia. Harpist asli tana Toraja ini bertekat untuk memperkenalkan Harpa dan memasyarakatkan musik klasik di Indonesia.

"Menyebarkan virus musik klasik? Iya sih tapi aku enggak bilang klasik karena lingkupnya besar. Lebih spesifik ke harpa," kata Rama sembari lunch time bersama RED Magz.

Harpa bukan pilihan pertama Rama. Lulus sekolah menengah atas, sekitar tahun 2004 Rama berangkat ke Austria untuk meneruskan pendidikan musik. Meyakinkan orang tuanya agar ia diizinkan mengambil pendidikan musik pun cukup sulit.

"Mau makan apa dari musik?" adalah pertanyaan yang didapatnya. Rama tidak patah semangat. Ia memang sangat menggemari musik dibanding bidang lain.  Ia termotivasi Twilite Orchestra yang dipimpin Addie MS untuk mengambil pendidikan di bidang musik klasik, meski itu bukan musik yang umum didengar orang Indonesia.

Sejak kecil, ibunya kerap mengajaknya menikmati pertunjukan Twilite Orchestra dan ia pun bermimpi suatu saat ingin menjadi konduktor seperti Addie MS.  Rama pun berangkat ke Austria dan mendaftar ke salah satu universitas di sana. Gagal masuk jurusan conducting yang diinginkannya, penggemar Addie MS ini tidak mau membuang waktu untuk ikut tes pada tahun berikutnya.

"Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru yang develop-nya bisa cepat. Dan saya pun akhirnya memilih antara harpa dan oboe. Saya suka dua instrumen ini dan masih jarang tersentuh di Indonesia," 

Musik itu nafas kehidupan



Musisi yang kerap wara-wiri dari satu festival ke festival lainnya ini mengungkapkan bahwa musik adalah nafas hidupnya, “Musik itu nafas saya, sejak kecil saya tidak bisa lepas dari musik terutama musik klasik seperti Harpa.” Saat usia sekolah, Rama juga sering menonton pemain senior harpa Maya Hasan. Bisa dibilang, setiap Maya tampil, Rama ada di pertunjukan itu. Saat di Winna, ia menilai pemain harpa di Indonesia sangat sedikit. Saat itu baru ada tiga orang pemain harpa profesional, termasuk Maya Hasan. "Akhirnya saya milih harpa karena pemain harpa di Indonesia masih tiga orang. Bolehlah jadi orang keempat." Atas rekomendasi berbagai pihak, ia pun memutuskan mendaftar ke Vienna Conservatory Austria. Ujian masuk pun tiba, ia harus tampil membawakan sejumlah lagu di depan pengujinya. "Saya belum pernah main harpa," katanya, mengenang saat itu. Harpa baginya termasuk alat musik yang rumit bila dibandingkan dengan piano dan biola. 

Sampai kapan mau main harpa?


Hening, lalu dia menjawab, "Sampai selesai bernapas. Saya percaya musik itu napas hidup. Harpa panggilan saya, bukan hobi lagi. Itu udah jadi misi saya, membagi talenta ke orang lain."

Foto: Sidharta

You Might Also Like

0 komentar: