Ferry Salim, Dari Hobi hingga Bisnis

11/14/2015 06:00:00 AM RED Production 0 Comments

teks: Delian

Mengawali karier entertainment dalam bidang Modelling dan semakin melambung dalam dunia seni peran tak menghentikan langkah Ferry Salim untuk melebarkan sayapnya dalam dunia bisnis. Shabu Slim, sebuah usaha restaurant Asia berkonsep All You Can Eat &Drink yang ia dirikan kian sukses mencuri hati para pecinta kuliner.

Tekuni Shabu Slim

Ketertarikan Ferry terhadap bisnis resto memang tidak bisa dilepaskan dengan hoby makan dan berwisata kuliner. Ferry yang juga pernah identik dengan program kuliner di televisi ini  merupakan salah satu pioneer host program kuliner di televisi sebelum makin menjamurnya program kuliner yang ada. "Karena dasarnya saya suka makan, jadi saya memulainya dari hobi" Berkat kecintaanya pada dunia kulinari itulah yang mendasari Ferry untuk berani menceburkan diri di bisnis kuliner ini. Tetapi, pilihan Ferry untuk terjun ke dunia entrepreuner, meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagai seorang artis, merupakan pilihan yang didasari motif yang perlu diacungi jempol. Bagaimana tidak, menurutnya, dengan ikut terjun ke dunia entrepreneur, ia berharap bisa ikut membantu pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan. “Saya berusaha membantu program pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja, itu yang pertama. Dan yang kedua, memang saya hobi untuk membuat bisnis. Ketiga ini untuk masa depan saya, kalau misalnya suatu saat saya sudah tua, saya sudah punya bisnis,” ungkap lelaki kelahiran Palembang 8 Januari 1967 ini.

Serius di Bisnis Kuliner

Memilih membuat restaurant ala Jepang yang menyajikan menu utma Shabu-shabu bukan tanpa alasan, "Alasannya simpel, orang zaman sekarang tidak mau makanan yang berlemak dan ingin hidup sehat. Dan Shabu ini lebih natural karena menggunakan sayur segar dan daging pilihan yang fresh." Nama Shabu Slim sendiri ternyata memiliki makna tersendiri, Shabu tentu saja menunjuk pada jenis makanan utama yang ia jual, sedangkan Slim menurutnya memiliki dua arti. “Kalau slim itu artinya ada 2 konotasi. Yang pertama, singkatan dari nama belakang saya, Salim. Kemudian yang kedua, kalau orang dua minggu berturut-turut makan shabu-shabu, pasti badannya akan slim atau langsing.” Ungkap Ferry. Medio Februari 2010 lalu, Ferry meluncurkan gerai Shabu Slim pertamanya di Central Park, Jakarta. Menurut Ferry, proses awal menyusun konsep restorannya tak mudah. "Saya mulai dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang pengusaha kuliner," kenangnya. Menyajikan beragam masakan khas Jepang, seperti sushi dan shabu-shabu. Konsep Shabu Slim adalah all you can eat and drink, yaitu bayar sekali, sudah dapat makan semua jenis makanan dan minuman yang tersedia. Tersedia lebih dari 100 jenis makanan di restonya, mulai dari shabu, aneka fush dan sushi, desert, ice cream dan buah-buahan, ice cream dan beragam beverages. Soal harga, Ferry menerapkan dua jenis harga yang berbeda, yaitu untuk anak-anak dan dewasa. Uniknya, untuk menentukan kategori anak-anak atau dewasa Ferry tidak memakai batasan usia atau umur, melainkan tinggi badan. Anak yang tingginya di bawah 120 cm termasuk dalam kelompok harga anak-anak. Sedangkan yang tingginya lebih dari 120 cm, sudah dicarge harga dewasa. Keunikan lain dari Shabu Slim adalah ditetapkannya batasan waktu. Dan konsep ini bisa dibilang yang pertama di tanah air. Pengunjung yang datang dipersilahkan mencicipi makanan apa pun yang tersedia sepuas mereka. Hanya saja, mereka hanya diberi waktu satu setengah jam untuk makan. Waktu satu setengah jam adalah waktu ideal atau waktu rata-rata yang biasanya dihabiskan orang untuk makan di restoran. "Sebenarnya ini adalah konsep yang unik, awalnya saya ragu apakah customer mau diberikan batasan waktu seperti itu, tapi ternyata bisa dan waktu satu setengah jam sudah cukup lumrah untuk menyantap makanan di restaurant. Rasa penasaran sekaligus pertanyaan: apa betul makan dibatasi? Malah jadi banyak yang datang." Mulai menyusun menu, resep, mencari dan melatih pegawai, food testing, hingga mencari peralatan masak, Ferry lakukan demi tercapainya bisnis yang matang. Tak heran, terbang ke Jepang, China, dan Korea Selatan, untuk berburu aneka peralatan dapur, mulai kompor, panci, sampai sumpit pun masih ia lakukan hingga kini.

Ikut Melayani Customer


Tak berhenti sampai di situ, pria metroseksual yang pada tahun 2004 silam ditunjuk oleh UNICEF (United Nations Children's Fund) sebagai duta nasional untuk Indonesia ini juga terlibat langsung dalam restaurantnya, begitu restorannya beroperasi, tak jarang Ferry ikut melayani para customernya. "Bukan hanya controlling ke resto, saya juga sering ikut melayani customer saat saya datang ke resto, setidaknya saya jadi tahu respon customer dengan menu yang ada juga, sembari melayani mereka biasanya ada yang ingin meminta foto bareng, membuat customer merasa senang dan puas itu penting." Layaknya restaurant ala Jepang, cara menghidangkan makanan di Shabu Slim memakai konsep rotaring conveyor yang dijalankan dengan system conveyor belt. Jadi pengunjung dapat langsung memilih makanan yang berputar mengelilingi meja mereka, bahkan di gerai resto yang terakhir, panjangnya conveyor belt mencapai 80 meter. “Semua kompornya menggunakan electric coocker. Walaupun saya bayar listriknya pasti lebih mahal, tapi paling penting bagi saya adalah kenyamanan pelanggan. Karena tidak berbahaya, tidak berbau dan tidak kotor. Kemudian panic yang saya gunakan itu menggunakan hit protector. Jadi kalau kuahnya lagi panas, tapi bila dipegang itu tidak akan membakar tangan.” ucap pemeran Shizou Sakaguchi ,dalam film Soekarno;Indonesia Merdeka garapan Hanung Bramantyo itu. Ferry memang serius mengelola bisnis restonya. Menurutnya selain kebersihan dan rasa yang harus teruji, pemilihan lokasi juga merupakan salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan dalam bisnis resto. Maka tidak heran jika Ferry hanya membuka gerainya di lokasi prime “Shabu Slim hadir ada di Mall Kelapa Gading, Central Park Mall, dan Kota Kasablanka Mall” jelas ayah dari Brandon Nicholas Salim, Brenda Nabila Salim dan Raoul Sebastian Salim. Meski Shabu Slim sudah memiliki tiga gerai, Shabu Slim terus berinovasi. Tak lagi cukup mengandalkan shabu-shabu dengan 100 jenis isi atau teknologi conveyor belt alias ban berjalan untuk mengedarkan makanan, ia juga menambah variasi menu, seperti sushi, es krim, dan minuman.
                  


Efek Nama Besar

Efek nama besar memang bisa menjadi modal tersendiri untuk menjalankan sebuah bisnis, banyak bisnis dari para artis sukses juga dibantu atas nama besar mereka di jagat hiburan, namun hal ini juga bisa menjadi bumerang, bagi mereka yang tak mampu menjaga kwalitas makanan juga mutu pelayanannya, bisa jadi customer hanya datang karena penasaran dengan bisnis si artis lalu kapok untuk datang kembali, hal imi ternyata begitu diperhatikan oleh Ferry Salim, "Kalau layanan dan produk jelek, orang hanya akan datang sekali lalu tak kembali. Nama besar saya sebagai aktor memang pengaruh dalam segi promosi, orang mungkin akan lebih mudah tahu, tapi itu tidak akan berarti kalau tidak diimbangi dengan kwalitasnya." Pungkas Fery yang tengah disibukkan dengan penggarapan film Merry Riana bersama Dion Wiyoko dan Chelsea Islan ini.

You Might Also Like

0 komentar: